Rescue Anak Beruang Madu

Pada sore hari tanggal 8 Agustus, seorang personil dari markas militer di tingkat kabupaten di Kabupaten Aceh Timur melaporkan melalui telepon ke Tim Perlindungan Gajah (EPT) FKL yang berdasarkan pengamatannya di tepi hutan yang berbatasan dengan perkebunan masyarakat bahwa beruang madu tertangkap di jerat. EPT mencoba untuk mendapatkan informasi penting sebanyak mungkin, dan di kemudian hari mereka berkoordinasi dengan kantor Regional FKL di Langsa, serta Badan Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (BKSDA Aceh) dan CRU Serbajadi untuk membentuk tim untuk menanggapi dan merawat beruang madu. Kami tidak bisa langsung menuju lokasi karena hari telah malam dan tim masih melakukan tugas di tempat yang lain. Setelah perencanaan yang cermat berdasarkan informasi yang diterima, tim siap untuk melakukan perjalanan lain setelah fajar untuk menyelamatkan beruang madu.

Keesokan paginya, tim menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dan melaju sekitar 2 jam untuk mencapai tujuan di mana anak malang ditangkap oleh jerat. Setelah pengamatan dari daerah sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada jerat lain yang aktif, saat itulah salah satu tim memperhatikan bahwa ibu anak itu sedang memantau di dekatnya. Sang Ibu setia menunggu dan tentu berharap ada yang datang untuk menyelamatkan anaknya. Bebepa kasus kami temukan satwa sudah tewas saat tim datang. Beruntung anak beruang ini masih hidup walau terus meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari jerat dan tentu dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Andai pelaku pemasang jerat melihat anaknya sendiri disiksa seperti ini, tentu dia, tentu mereka juga tidak akan tega membunuh satwa seperti ini. Dokter hewan kami sampai terdiam sejenak melihat kekejaman ini,  dan mulailah pekerjaan ini dilakukan dengan hati untuk menyelamatkan satwa yang lemah ini.

Anak itu sendiri telah berjuang selama berhari-hari mencoba membebaskan diri dan tim merasakan betapa sakitnya anak itu. Dengan gugup dan teliti, tim dengan cepat membebaskan beruang madu dan memberikan perawatan yang dibutuhkan. Untungnya, luka dari jerat itu tidak terlalu dalam dan setelah satu jam perawatan, tim menganggap anaknya dapat dilepaskan kembali ke alam liar segera. Sang beruang kecil lega dibebaskan, dengan gembira berlari ke arah induknya. Segera, mereka telah meninggalkan daerah itu dan masuk kembali ke hutan.

Meskipun tim melihat dengan mata kepala sendiri bahwa anak itu bergabung dengan induknya, setelah berdiskusi mereka sepakat bahwa bagian dari tim harus memantau area di mana anak itu ditangkap oleh jerat hanya untuk lebih memastikan bahwa tidak ada efek samping. dari obat, atau bahwa anak itu tidak tertangkap pada jerat lain. EPT menuju ke tempat yang sama pada hari berikutnya, dan selama beberapa jam memantau daerah tersebut mencari jejak dan bukti bahwa anak itu dan ibunya aman dan sehat. Setelah berjam-jam memantau daerah itu, seorang anggota EPT melihat di kejauhan bahwa anak itu bersama induknya, dan aman berkeliaran di hutan. EPT melaporkan kembali ke tim utama, sekarang merasa lebih tenang untuk penyelamatan sukses lainnya

Kami yakin usaha ini tidaklah sia-sia.Kami menyadari pekerjaan ini sangat berat dan terkadang dianggap sebagai pekerjaan aneh, tapi dengan dukungan yang besar dari banyak pihak kami yakin akan lebih kuat untuk menyelamatkan Leuser dan hutan Aceh. Karena inilah konstribusi kami untuk kehidupan didunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.